Upaya memperkuat ketahanan pelajar dari ancaman intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) kembali digalakan oleh Tim Pencegah Satgaswil NTT Densus 88 Anti Teror Polri.
Pada Senin, 1 Desember 2025, tim hadir di SMP Negeri 02 Lembor Selatan, Desa Kakor, Kecamatan Lembor Selatan, dalam sebuah kegiatan edukasi yang diikuti 278 siswa serta 36 guru dan staf sekolah. Sejak pukul 07.30 Wita, seluruh civitas sekolah telah bersiap menyambut tamu penting yang datang membawa pesan perlindungan bagi generasi muda.
Penyambutan dilakukan dengan penuh kekhidmatan melalui tarian adat Manggarai dan prosesi Pau Tuak Curu. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan, sekaligus menunjukkan bahwa masyarakat setempat terbuka terhadap upaya bersama menjaga masa depan anak-anak mereka.
Nilai-nilai lokal yang ditampilkan menghadirkan kesan mendalam, tentang ketulusan, kedamaian, serta komitmen menjaga harmoni, sejalan dengan misi utama kegiatan sosialisasi ini.
Setelah penyambutan adat, kegiatan dilanjutkan dengan upacara bendera. Kanit Pencegahan Satgaswil NTT Densus 88, Iptu Silvester Guntur, S.H., M.M., bertindak sebagai inspektur upacara.Dalam amanatnya, ia menegaskan bahwa kedatangan Densus 88 di sekolah tidak berhubungan dengan penindakan, melainkan sebagai sahabat yang ingin mendampingi pelajar agar tumbuh cerdas, kuat dan bijak di era digital.
“Mungkin ada yang bertanya-tanya, ‘Kenapa ada Bapak Polisi dari Densus 88 hadir di sini? Apakah ada penjahat? Apakah ada yang mau ditangkap?’ Jawabannya: Tidak,” ujarnya.
Ia kemudian menambahkan, “Kami hadir di sini bukan untuk menakut-nakuti. Justru sebaliknya, kehadiran kami adalah wujud rasa sayang dan peduli. Kami hadir sebagai sahabat, sebagai kakak, dan sebagai mitra bagi sekolah untuk memastikan masa depan kalian tetap cerah.”
Iptu Silvester mengingatkan bahwa di tengah derasnya arus informasi digital, pelajar kini menghadapi tantangan baru, mulai dari ajakan kekerasan, konten radikal, hingga perilaku menyimpang yang kerap muncul dalam bentuk yang tidak disadari.
Ia menegaskan bahwa kekerasan verbal ataupun fisik tidak boleh dianggap biasa.
“Bullying bukanlah candaan. Bullying adalah bibit kekerasan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya etika digital, karena setiap ujaran di media sosial meninggalkan jejak permanen.
“Jempolmu adalah harimau-mu. Banyak yang tidak sadar bahwa menyebar hoaks, berkomentar kasar, atau menyebarkan aib teman adalah tindak pidana,” ucapnya.
Pesannya tentang kewaspadaan terhadap paham radikal juga disampaikan dengan lugas. Menurutnya, radikalisme jarang datang secara terang-terangan; ia menyusup perlahan melalui ajakan untuk membenci atau mendiskriminasi.
“Mulai dari ajakan membenci teman yang berbeda agama atau suku, hingga narasi yang membenarkan kekerasan atas nama tujuan tertentu. Tugas kami adalah mengingatkan: jadilah kritis,” ujarnya.
Ia meminta siswa untuk berkomunikasi dengan guru atau orang dewasa terpercaya bila melihat gejala mencurigakan di lingkungan mereka. Selepas upacara bendera, Kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala SMP Negeri 02 Lembor Selatan, Geradus Gotmey, S.Pd.
Dalam sambutannya ia menyampaikan apresiasi kepada Densus 88 yang telah meluangkan waktu untuk memberikan edukasi di lembaga pendidikan yang dipimpinnya.
“Terima kasih kepada Tim Pencegahan Satgaswil NTT Densus 88 Anti Teror Polri yang telah hadir untuk memberikan edukasi bagi para siswa kami,” katanya.
Ia menegaskan bahwa para pelajar harus dibekali pengetahuan yang tepat agar dapat menavigasi dunia digital dengan aman.
“Banyak hal positif dari kemajuan teknologi, tetapi ada juga hal negatif yang selalu mengintai. Karena itu para siswa perlu diberikan pembekalan agar tidak terjebak dalam tindakan yang merugikan diri sendiri dan sekolah,” ungkapnya.
Saat memasuki sesi inti, Iptu Silvester menjelaskan materi dengan bahasa yang ringan, disertai contoh konkret yang mudah dipahami. Ia memaparkan bahwa terorisme tidak selalu hadir dalam bentuk bom atau senjata, tetapi juga berupa serangan psikologis yang merusak rasa aman masyarakat.
“Aksi teror adalah serangan terhadap rasa aman kita. Tujuannya melemahkan persatuan dan menanamkan ketakutan,” tegasnya.
Penjelasannya didukung data Cyber Patrol 2024–2025 yang menunjukkan maraknya konten ekstremisme di dunia maya. Pada 2024 tercatat 184.416 konten ekstremisme dan lebih dari sepuluh ribu akun yang berpotensi menyebarkan propaganda radikal. Tren tersebut berlanjut pada 2025 dengan puluhan ribu konten radikal lainnya, menandai bahwa ruang digital masih rentan dimanfaatkan kelompok ekstrem.
Kerentanan pelajar turut menjadi perhatian. Ia mengutip laporan Setara Institute tahun 2023 yang menyebutkan bahwa 83 persen siswa di lima kota menganggap Pancasila bukan ideologi permanen. Menurutnya, kondisi seperti ini menjadi celah ideal bagi kelompok radikal untuk menawarkan ide-ide yang ekstrem. Ia menjelaskan bahwa narasi radikal sering dikemas rapi dalam bentuk video pendek, kutipan motivasi, e-book, hingga permainan digital, sehingga membuat pelajar tidak sadar ketika pemahamannya mulai berubah.
Ia juga menyinggung kasus terbaru yang melibatkan remaja 18 tahun yang ditangkap karena menyebarkan propaganda ISIS. Kasus ini, katanya, adalah bukti bahwa ancaman terhadap generasi muda selalu dinamis dan bisa menyasar siapa saja. Ia kemudian memaparkan proses radikalisasi yang berjalan bertahap.
“Terorisme tidak muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui rantai intoleransi, radikalisme, ekstremisme, hingga akhirnya bermuara pada tindakan teror,” tuturnya.
Prosesnya biasanya dimulai dari propaganda kebencian, dilanjutkan dengan rekrutmen, pelatihan, mobilisasi, hingga aksi.
Penurunan drastis serangan teror pada 2023–2024 yang bahkan mencapai “zero attack” turut dijelaskan sebagai bukti bahwa usaha pencegahan, deteksi dini, dan kerja sama masyarakat membuahkan hasil. Namun ia mengingatkan bahwa keberhasilan itu tidak boleh membuat masyarakat lengah.
Selain ancaman radikalisme, Iptu Silvester menyoroti bahaya bullying dan kekerasan seksual yang kerap menjadi pintu masuk kerentanan psikologis.
“Bullying dan kekerasan seksual berdampak sangat buruk; trauma mendalam, stres, malu, menarik diri, hingga risiko bunuh diri. Ini tidak boleh dianggap sepele,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa korban bullying sangat rentan direkrut kelompok radikal karena kondisi emosional mereka yang rapuh.
“Mereka menjadi target yang sangat ideal untuk direkrut,” tegasnya.
Untuk memperkuat benteng diri pelajar, Iptu Silvester mengingatkan pentingnya empat pilar kebangsaan; Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, serta empat pilar ketahanan pelajar yang meliputi kesadaran diri, wawasan digital, daya kritis dan karakter kebangsaan.
Keempat pilar tersebut diharapkan mampu membantu pelajar mengenali ancaman sejak dini dan mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi dinamika sosial di lingkungan mereka.
Sesi diskusi berlangsung hangat. Seorang siswa bernama Claudia bertanya tentang bentuk hukuman bagi anak-anak yang terlibat tindak terorisme. Iptu Silvester menjelaskan dengan tenang bahwa penanganan anak yang berhadapan dengan kasus terorisme menggunakan pendekatan keadilan restoratif. Ia menegaskan bahwa hukuman mati ataupun penjara seumur hidup tidak berlaku bagi anak, sesuai ketentuan dalam UU Sistem Peradilan Anak.
Siswa lain, Dirta, menanyakan alasan mengapa pencegahan terorisme begitu penting. Menanggapi pertanyaan itu, Iptu Silvester mengatakan bahwa aksi teror bukan hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerusakan ekonomi, memecah masyarakat, dan menanamkan rasa takut yang meluas.
Menutup kegiatan, Kepala SMP Negeri 02 Lembor Selatan kembali menyampaikan terima kasih atas kesempatan yang diberikan Densus 88 untuk hadir dan memberikan edukasi bagi para siswa. Ia berharap kerja sama seperti ini terus berlanjut agar pelajar dapat selalu berada dalam lingkungan yang aman dan terarah.
Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol komitmen antara sekolah dan aparat keamanan untuk menciptakan ruang belajar yang damai, toleran, dan bebas dari paparan kekerasan.
Melalui kegiatan ini, seluruh pihak berharap agar generasi muda Manggarai Barat tumbuh sebagai kelompok yang kuat, berkarakter, dan mampu menjadi benteng pertama dalam menjaga kebangsaan.
Dengan pemahaman yang tepat, kesadaran digital yang baik, dan karakter yang berlandaskan nilai-nilai kebhinekaan, para pelajar diharapkan siap menyongsong Indonesia Emas 2045 dengan penuh integritas dan ketangguhan.****

















