Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
banner 160x600
banner 160x600
banner 970x250
BERITAINFO DAERAHRAGAMTanggamusUncategorized

Perusak harga telur di pasar jadi keluhan peternak kecil

×

Perusak harga telur di pasar jadi keluhan peternak kecil

Sebarkan artikel ini

Tanggamus-Istilah “merusak harga pasar” dalam dunia bisnis dan ekonomi paling sering merujuk pada praktik predatory pricing (penetapan harga predator) atau banting harga ekstrem. Fenomena ini terjadi ketika sebuah pelaku usaha sengaja menjual produk dengan harga yang jauh di bawah modal atau harga pasar normal bahkan dibawah harga produksi.

Fenomena ini terjadi di kabupaten Tanggamus. Sekarang ini para peternak ayam petelur lokal kelas menengah kecil mengeluhkan harga yang tidak stabil di pasaran. Akibat dari persaingan yang tidak sehat dan berdampak pada ruginya para peternak. Dari pantauan tim dilapangan di beberapa Kecamatan Kabupaten Tanggamus harga telur ayam dijual antara Rp 23.000-23.500/Kg, dimana telur di pasok dari beberapa BUMDES yang memiliki peternakan ayam petelur.

banner 300x600

Sebagai referensi untuk propinsi Lampung dan sekitarnya termasuk kabupaten Tanggamus, harga posko (harga dari peternak) harga telur yang telah disepakati bersama para peternak, pedagang dan pemerintah adalah Rp. 24.500/kg (per tanggal 28 September 2026). Sehingga semestinya harga di pasaran diatas Rp . 1000 – Rp. 2000 dari harga posko tersebut.

Namun fakta di pasar seputaran pasar kota agung, gisting, wonosobo, semaka dan sekitarnya tidak demikan. Ada salah satu peternak yang infonya diketahui milik BUMDES di kecamatan kota agung malah merusak harga di pasaran. Bahkan BUMDES ini menjual harga telur jauh dibawah harga posko sehingga bisa berdampak pada kebangkrutan para peternak kecil.

Menurut BasRah, salah satu peternak ayam petelur yang berlokasi di Gisting mengeluhkan masalah peran BUMDES tersebut yang merusak harga telur yang telah disepakati bersama. Menurutnya, harga posko telur (harga dari peternak) mestinya jadi rujukan untuk penjualan di pasar. Karena harga posko tersebut sudah ada pertimbangan antara harga pakan, operasional kandang dan hasil telur yang didapatkan. “Kalo kayak gini, kami sebagai peternak kecil yang dirugikan. Apalagi sekarang harga pakan, konsentrat termasuk jagung semakin hari semakin naik. Tolonglah kepada pemerintah agar BUMDES itu ditegur agar jangan kayak gitu dalam usaha. Bisa gulung tikar usaha kami” tegas Basrah.

Burhanudin Peternak lain sekaligus sebagai pedagang telur juga ikut mengeluhkan hal demikian. Menurutnya, dampak dari harga telur yang di acak-acak oleh BUMDES tersebut membuat warung-warung kecil dan konsumen jadi bingung sehingga daya beli telur menurun. “Dampaknya saya sebagai agen penjual telur enggak bisa ngimbangin harga BUMDES tersebut. Warung-warung kecil yang saya kasih pun enggak bisa jual untuk wilayah gisting, kota agung, wonosobo dan pangkul. Akibat dari BUMDES jual dibawah harga posko. Kami mohon agar pemerintah turun tangan atas masalah ini” harap Burhan.

Para peternak lainnya juga berharap adanya komunikasi antara peternak, pedagang, pemerintah daerah, dan pihak terkait untuk mencari mekanisme perdagangan yang dapat menjaga keberlangsungan usaha tanpa merugikan konsumen maupun pelaku usaha.(*)